Beasiswa dan hidup yang sebenarnya

Menerima beasiswa yang mencakup biaya hidup dan tuition fee adalah sebuah kesyukuran besar bagi saya, bisa melanjutkan studi di kampus impian tanpa membebani orang tua saya secara finansial. Ya walaupun pasti ada beban-beban lain seperti berjauhan dengan orang tua untuk bbrp saat dan kesepakatan dengan pihak pemberi beasiswa. Setiap keputusan kan pasti ada plus minusnya. Saya yakin dua tahun keluar dari rumah tidak ada ruginya jika dibandingkan dengan pendidikan dan pengalaman yang saya dapatkan. Pertanggungjawaban dengan pemberi beasiswa (pemerintah) pun saya kira tidak ada yang kontradiktif dengan visi hidup saya.

Universitas tujuan saya berada di kota London, salah satu kota yang biaya hidupnya tertinggi di dunia. Kota yang ketika melihat biaya hidupnya, rasanya akan susah bertahan jika tidak mendapatkan beasiswa penuh, apalagi berasal dari keluarga biasa saja di negara yang masih berkembang. Tapi ungkapan tentang ada harga ada barang itu kadang betul adanya. Belajar di kampus ini sangat berbeda dengan ketika belajar di Bandung empat tahun dahulu. Kombinasi dari lingkungan, sistem, dan SDM yang berbeda, juga karena dahulu saya mengenyam pendidikan sarjana sementara saat ini pendidikan master. Yang jelas, banyak hal yang saya rasa berbeda.

Satu hal yang saya khawatirkan dahulu adalah kesepakatan bahwa saya tidak boleh bekerja ketika studi nanti. Khawatir ketika uang saku tidak cukup atau bagaimana, rasa tidak enak jika harus meminjam pada orang lain (karena sadar tidak punya tabungan sama sekali), tapi alhamdulillah belum pernah mendengar cerita dari para pendahulu yang telah berangkat, dan terbukti bahwa selama 10bulan saya berada di London, belum pernah saya terlambat diberikan uang saku.

Alhamdulillah, tidak perlu khawatir dengan keuangan. Tapi ya namanya manusia, selalu ada pikiran lain, seperti: bagaimana saya bisa mendapatkan pengalaman di luar studi ketika saya berada di sini kalau saya tidak boleh bekerja?. Pengalaman bekerja di kebun binatang, di cafe, dan di bioskop historis seperti teman-teman saya yang lain. Bergaul dengan para pekerja part-time lainnya dan memperluas relasi, atau sekedar pelipur lara dengan mendapatkan teman baru. Namun kesepakatan untuk tidak bekerja ada dalam kontrak. Adalah hal yang rasional jika kami dibiayai untuk fokus belajar. Ketika sampai di London, mencari kegiatan di luar kuliah selain bekerja juga saya usahakan. Pengalaman kami dapatkan dengan menjadi volunteer di kegiatan-kegiatan sosial di kampus maupun di luar kampus. Banyak juga brief yang ditawarkan dari kampus dalam bentuk kompetisi ataupun proyek dalam universitas. Kalau memang tujuannya mendapatkan pengalaman, banyak yang masih bisa dicari. Dengan jalur ini pun saya bisa lebih selektif dengan bidang yang berkaitan dengan bidang saya. Kalau masih keukeuh tentang masalah biaya, sekali pernah ditanya sama Ibu pembimbing dalam beasiswa kami, “kamu mau belajar atau mau nimbun valas sih?”—kira-kira intinya beliau bertanya mau belajar atau nyari uang?. Jleb ya, tapi betul banget. Sekolah aja yang fokus, mau cari pengalaman juga banyak jalannya gak harus bekerja. Kalau mau pengalaman kerja, ya ada waktunya, saat libur atau setelah selesai studi.

Garis besar kesepakatan beasiswa ini juga mencakup poin “kembali dan berkontribusi membangun Indonesia”. Bagi saya, kecuali saya “didepak” oleh keluarga saya sendiri, rasanya hidup di luar negeri dan tak kembali lagi tidak terlintas dalam pikiran saya. Saya pun sadar betul kalau dengan sebuah nikmat yang seperti ini datang tanggung jawab yang tidak kecil pula. Menggunakan uang saku untuk hal yang bermanfaat dan sebisa mungkin saya hidup secara tidak berlebihan. Bukanlah hal yang saya antisipasi mendengar cibiran dari orang-orang terdekat saya, bahkan keluarga saya sendiri. Kurang enak kedengarannya tapi tidak ada gunanya mendebat, apalagi jika sudah membanding-bandingkan, lebih baik didoakan. Kami yang belajar di sana hanya bisa berusaha dan berharap sepenuh hati untuk bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi Indonesia. Mungkin klise, tapi berkoar-koar pun tak akan ada gunanya. Berusaha dan berdoa, berusaha dan berdoa.

Saya bukan orang yang bisa berkoar-koar di depan orang banyak, menulis lebih membuat saya nyaman. Sebab lisan saya kadang tak terkontrol tapi apa yang ditulis bisa dipikirkan agak lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s