Lika Liku S2 di London, Inggris

Posting ini dibuat atas permintaan Gun Gun Gunawan, a very talented friend. Semoga saja ini bisa menjawab. Mon maap pisan bahasanya ancur, udah kelamaan ga sempet ngerapiin jadi yaudah gapapa lah ya buat gun gun nu geulis daripada nunggu minggu depan wkkw.

Setelah menjalani s2 ternyata banyak motivasi saya yang berubah, kenyataan tidak seperti yang sebelumnya dibayangkan atau sesederhana karena alasan idealisme. wehehhe

– Kenapa ngambil S2?

Alasan pertama, motivasi pribadi, saya sejujurnya tidak tahu mau ngapain setelah menjadi sarjana, yang jelas saya merasa tidak sreg ketika ingin memilih satu dari beberapa opsi yang ada:

  1. Kembali ke rumah dan mengajar, mau ngajar apa? Atau bisa bikin apa? Mau perbaiki apa? Mau bikin ini itu tapi ga ngerti sistem. Bingung.
  2. Kerja? Logikanya (saat itu) kerja di tempat yang sudah mapan biar banyak pelajaran yang bisa diambil. Kebayang lembur2 di kantor, ngerjain yang disukain tapi buat orang. Belum tentu suka, saya juga orangnya bosenan. Punya pengalaman juga kurang, skill juga kurang. Kalau langsung kerja, rasanya saya akan jadi kacung dalam waktu yang lama, jangan dulu deh.
  3. Habis kuliah langsung ditodong ayah untuk menikah. Maklum, anak terakhir di keluarga. Mungkin ayah ingin segera pensiun. Tapi saya masih ingin tahu saya bisa kontribusi apa di society. Kalau nikah duluan bisa-bisa lupa sama mimpi sendiri.Berhenti dulu, mikir dulu, explore lagi. Sekolah lagi rasanya paling makes sense dari semua pilihan, saat itu.

Boleh dibilang selama 5 bulan setelah kuliah, fase tidak jelas di hidup saya (walaupun sekarang lebih tidak jelas lagi). Pinginnya S2 tapi ga tau mau ke mana. Belajar bahasa Inggris sekalian magang, membantu yang saya bisa bantu di keluarga, coba ini itu, apply sana sini. Sambil mikir, kalo ga bisa S2 ngapain ya saya? Tapi alhamdulilah bisa juga sekolah lagi

– kenapa ke luar negeri (di negara itu sm univ itu)

Kenapa Inggris?

Sebelum brexit, rasanya Inggris terlihat paling terbuka, the home of well-educated people (di pikiran saya waktu itu). Less-harmful for a hijabi like me. Conducting religious practices is usually an issue for people living abroad but I found that most of places here has a place dedicated for pray, or, at least a medical room that you can use for different purposes. In fact, London is fine so far, apart from a grandpa talking shits because I sit alone in a four seats-table in waitrose. but it’s okay. I guess I wasn’t so lucky that day.

and my biggest concern is also the university. I’ve decided to go for LPDP and thus I need to choose among the best universities to be eligible for this scholarship. To be honest I applied with a certificate from University of Edinburgh (top 50 world Qs, if I’m not mistaken). I finally ended up here, University of the Arts London. After LPDP, I kept looking for a “nice” university out there, read bunch of reviews and explore google earth. I’ve had an impression that the approach of this course in UAL is more experimental, self-driven, some said artsy, and (can be said) personalised which I’d love to do.

But the point is I can go to this university because this is what I want and qualified for LPDP. Don’t assume that I only apply for LPDP and these 2 universities, instead I applied for different scholarships and universities at that moment, tapi Allah ngasihnya itu, ya alhamdulillah.

  • Urgensinya kuliah disana apa (menunjang karir kah, kerja dll)
    Awalnya idealis banget, mau mengangkat dongeng/cerita rakyat buat anak2 biar bisa tetap diminati karena saya merasa yang paling mengena pada saya ketika kecil adalah moral dari cerita2 yang saya baca kemudian dapat saya lihat di kenyataan. haha! Tapi course ini memang sangat terbuka, saya explore metode dan topik berbeda, bebas dan akhirnya jadi lebih ke komen sosial.
  • Setelah lulus mau apa (kerja apa, barangkali sesuai sm bidang S2 nya)
    Sedang merencanakan gap year haha. Sepertinya menadi wanderer lebih menarik dan banyak yang bisa diexplore. Dibilang sesuai sama practice yang dilakukan di s2, iya, lebih kurang seperti itu. inginnya ya independen, tapi rasanya masih jauh dari itu. Intinya mencari sebenarnya practice seperti apa yang benar-benar bisa saya lakukan dan yg paling penting, sustainable.
  • Disana belajar apa aja ( kelebihannya apa dr d indo), apa aja yg didapat ( dr kuliah, pergaulan, kondisi masyarkat di sana)
    kelebihannya pertama network, experience, lalu fasilitas. Jadi kenal designer2 banyak, tahu ini itu dan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Jadi tahu aja gmn perspektif lain dari orang sini, orang eropa timur, orang timur tengah, orang asia timur, membuka cakrawala terutama saya yang kurang gaul dan tidak terlalu banyak usaha for building a network wkwk. I honestly found myself can’t really mingle with my friends here. Friends are friends in college, at work, in communities. The bonding is different from how people interact in Indonesia. Mungkin juga karena saya tidak terlalu suka ngobrol2 banyak karena orang sini suka banget minum sambil ngobrol, itu cara mereka bergaul. Saya masuk bar aja pusing, baunya juga ga suka 😦 ya jadi udah saya bergaul sama yang saya bisa saja di luar itu, tapi kalau di kampus ya berteman baik. Tapi kadang ada baiknya juga hal seperti itu, karena seharian ngomong pake bahasa orang tuh asa cape mikir terus, ketemu temen indo sambil makan makanan rumah teh ya istirahat. Saya selalu mikir mungkin kenapa orang-orang sekolahin anaknya di luar biar kebiasa baca dan bergaul sama orang2 dari macem2, tau cara bergaul sama ngomong bhs beda2 teh udah biasa.  Kebiasaan yang bodoh yang terbawa klo pulang ke indo adalah ngomongin orang, krn di sini ga ada yg ngerti ya ngomongin orang keras aja. pas balik ke indo diliatin orang … krik
  • Belajar di kelas lebih banyak ke diskusi, presentasi, and I found that reading list is frustrating. We have list of books and/or references that we need to read over the term to support our argument. I don’t reallly read things and can’t remember things in details. That what makes me stupid whenever I debate someone is I cannot remember which book I read,  who said that or which phrase should I choose to support my argument. Gue ngerasa bego banget kalo udah begini. Tapi ya mau gimana lagi, orang sini udah biasa banget baca, kalah lah saya yang ga pernah baca buku2 seperti itu. Pake bahasanya dia juga kan heu. Pokoknya asa paling bodoh kalo udah diskusi teh.
  • Kondisi masyarakat di sini beda sih permasalahannya, kayak di Indo masih ngomongin perpecahan karena agama atau ras, di sini ada juga isu itu tapi karena refugees misalnya. Terus agama sangat mendominasi kan di Indo, disini orang-orang ga begitu care tentang where you come from, who you are, how old are you, are you religious or not, as long as you’re capable to do it (at least in academic environment). Tapi kalau masalah hierarki masih didominasi orang putih disini. Walaupun sudah ada regulasi ttg komposisi “white and people in colour” di hampir semua department, tapitetep aja yang di atas biasanya putih. Waktu ke sini kan pas banget waktu brexit, tapi gapapa sih soalnya London mayoritas tidak mendukung Brexit. Katanya di luar London lebih kerasa sih.
  • Gimana mengatasi klo2 di tengah persentasi lupa grammar ato bingung cara nyampein maksud kita
  • percaya atau engga, sampe sekarang gue masih terbata2 ngejelasin. pertama memang gue ga bisa ngomong pakai bahasa Indonesia apalagi bhs inggris. Jadi ya klo lupa grammar coba pakai gesture atau coba jelasin dengan deskripsi. klo mepet ya buka kamus atau tunjukin aja langsung gambarnya. Karena presentasi kita kadang bisa mengerti kadang engga. Persiapan jadi hal yang paling utama sih, aku awal-awal mau tutorial aja harus persiapan biar ga terbata2…..
  • masih sering gue ga tau jawab pertanyaan2 skak mat gitu, misal ditanya konsep, why this why that terus klo gini gmn klo gitu gmn, kadang bikin frustasi juga kalo lagi kebawa emosi. Kita ga biasa berpikir kritis (apa gue doang?) disini semuanya kudu logis dan bener2 dipikirin atau ga lo keliatan bego (atau semua master begitu?). Tapi kadang pertanyaan2 itu bikin mikir apa yang ga kepikiran, semacam munculin ide baru. Jadi ga ada salahnya ngeles tapi nnti ya dipikirin lagi beneran mau gini atau engga.

Foto: Salju pertama di depan kosan, Holloway Road

Published by Eva Afifah

Graphic Designer | Children Illustration Enthusiast eva.afifah.rd@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: