Seleksi Indonesia Mengajar

2018-2019 merupakan tahun jungkir balik bagi saya. Salah satunya adalah ketika saya merelakan sebuah kesempatan yang pernah didambakan… Tapi memang niat awal saya mengikuti seleksi ini adalah nothing to loose, jadi ya sudah. Saya bertekad untuk tidak memberitahu orang tua dan orang terdekat hingga saya dingatakan lulus ke tahap selanjutnya. Ternyata walaupun sepenuhnya mendukung program IM, keluarga punya pertimbangan lain. 

Pertama kali saya mendengar program ini adalah saat di bangku kuliah strata satu. Ketika itu, saya tidak berkesempatan mengikuti mata kuliah KKN di ITB yang notabene nya adalah matkul pilihan. Indonesia Mengajar sangat menarik saat itu karena menawarkan para mahasiswa yang tidak memiliki background mengajar untuk mengajar di tempat 3T. Alumninya pun bukan orang-orang sembarangan. Pengalaman yang saya dengar dari para alumni merupakan ketertarikan tersendiri bagi saya. Kalau tidak percaya, coba saja baca buku-buku mengenai Indonesia Mengajar. Tidak seru kalau saya ceritakan versi 2 🙂

 

Seleksi

Secara garis besar, proses seleksi melalui tiga tahap:

  1. Seleksi administratif
  2. Direct assessment
  3. MCU

Jika ditetapkan lulus ke tahap tiga, 90% kandidat sudah diterima kecuali ada kendala mengenai kesehatannya pada tahap MCU. 

Seleksi administratif adalah yang paling challenging menurut saya. Sudah 3x saya membuat aplikasi namun barulah yang ketiga kali saya berhasil melengkapinya hingga bisa “submit”. Tidak ada yang istimewa mengenai data diri, hanya saja essay yang harus dibuat begitu banyak  menguras memori lama (walaupun singkat-singkat). Pertanyaannya seputar pengalaman problem solving dalam berbagai situasi, dan seyogyanya dijelaskan secara detail. 

Link pendaftaran pengajar muda bisa diakses dari website pendaftaran IM

Seleksi dibuka setiap tahun 2 kali. Tanggalnya tidak selalu sama namun kisaran bulan dan tahunnya bisa diperkirakan. Saya sendiri ikut yang di awal tahun sekitar bulan Februari. Saran saya, siapkan dulu saja aplikasi dengan mempersiapkan data dan (terutama) jawaban essay. Karena selama saya mengajukan aplikasi (2014, 2016, 2019) pertanyaan essay tidak berubah. 

Tahap 1 berhasil saya submit dalam waktu H+1. Ya, seingat saya saya telat mengumpulkan sehari setelah deadline namun ternyata menerima email undangan seleksi. Saya agak terkejut namun excited karena bisa mengikuti direct assessment. Disinilah tahap paling seru. Kita diberi kesempatan untuk “menjadi PM” dengan diberikan kasus real dari lapangan. Tahap ini cukup ketat, mendengar dari penuturan ketua panitia apda saat briefing, hanya 200 orang dipanggil untuk melakukan DA dari 10.000 aplikan. DA dilakukan di 3 kota besar: Jakarta, Medan, Makassar. Sementara bagi teman-teman yang berdomisili di luar negeri, dilakukan DA online. 

Seleksi yang saya ikuti dilakukan di sebuah sekolah bisnis daerah Kalibata—Di sini saya bertemu Rianty Catwright (ga penting). Prosesnya dari pagi hingga sore. Pagi hari saya sampai agak telat karena macet Jakarta… Memang lokasi rumah yang berada di Parung, Bogor membuat perjalanan tidak bisa diprediksi. Lain kali memang lebih baik menggunakan commuter line walaupun berdesakan yang agak tidak manusiawi tapi macet lebih tidak manusiawi lagi membuang waktumu!

Pagi hari kami melakukan absen dan verifikasi data dengan membawa dokumen asli, kemudian kami diberikan beberapa form isian seperti bahan mengajar dan data diri. Kemudian kami dikumpulkan untuk briefing selama hari itu oleh Kak Diva dan kawan-kawan. Tim asesor terdiri dari alumni IM dan asesor independen. Kira-kira isi briefingnya adalah bahwa kami dalam satu hari tersebut menjadi seorang PM di sebuah kota kecil di Sulawesi, pada tahun ke4 melanjutkan perjuangan teman-teman PM terdahulu. ada 5 tahap seleksi di hari itu yaitu Tes Potensi Akademik, Psikotes Grafis, simulasi mengajar, interview, Diskusi kelompok, dan Audiensi kegiatan. 

Setelah briefing kami diberikan tes singkat (TPA) dan tes grafis. Setelah itu, 20 orang peserta pada hari itu dibagi menjadi 4 kelompok untuk melakukan simulasi mengajar, interview, Diskusi kelompok, dan Audiensi kegiatan secara bergantian. Kelompok saya kebagian sesi paling seru duluan, yaitu simulasi mengajar. Pada tahap ini kami telah diberikan materi sebelumnya dan harus mempersiapkan rencana ajar (semacam I’dad kalau di pesantren). Saya bilang paling seru karena banyak “kejutan” pada setiap giliran kandidat. Kejutan ini misalnya ada orang jualan saat mengajar (ini terjadi saat giliran saya), ada juga orang tua yang dapat menjemput dengan paksa anaknya, ada lagi yang pup di celana, dan sebagainya. Kejutan ini adalah tantangan-tantangan yang benar-benar terjadi di lapangan selama ini. 

Selanjutnya, kami melakukan diskusi kelompok. Diskusi ini tetap membahas tema dan setting yang sama sejak pagi hari namun fokus untuk menemukan satu alternatif penyelesaian masalah berdasarkan latar belakang soal yang diberikan. Di dalam grup, agaknya sayalah yang tertua. Sebagian besar adalah fresh graduate strata satu, beda 2-3 tahun dengan saya. Hanya satu orang yang telah s2 di kampus lama saya. Ya paling tidak saya gak sendirian :).

Sesi 3 adalah interview. Sesi ini cukup menguras pikiran karena harus mengingat detail kejadian yang mungkin telah terjadi 3-4 tahun yang lalu. Di awal, interviewer menyarankan untuk memilih kejadian yang tidak terlalu lama. Saya diinterview oleh Kak Ucok, salah satu “pejabat” di IM. Interview berjalan santai dan saya beruntung mendapat interviewer yang sangat sabar :”

Interview seharusnya berlangsung satu jam namun saya kelebihan sekitar 15 menit. Saat keluar dari ruangan, teman-teman telah menunggu. Kami lalu menuju ke ruangan selanjutnya untuk sesi terakhir hari ini. 

Sesi terakhir adalah audiensi. Kami tetap bekerja sebagai tim untuk menyukseskan program yang kami bawa. Saya dan dua orang lainnya bertugas untuk bertemu kepala desa. Kepala desa kooperatif setelah dijelaskan secara detail konsep yang kami tawarkan. 

Terakhir, kami diingatkan kembali mengenai timeline seleksi tahap 3 dan sedikit sharing tentang hari ini. Terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi mulus tidaknya tugas nantinya di lapangan, simulasi sehari ini sangat berkesan bagi saya. Memang tidak akan mudah, namun saya berekspektasi akan banyak sekali kesan dalam prosesnya. Initnya siap-siap berjuang mengerahkan seluruh kekuatan. 

Satu hal yang snagat berkesan dari email-email yang saya terima adalah bahasa yang digunakan. Saya merasa pilihan kata sapaan dan penutup tidak biasa dan seolah memberikan aura positif. Mungkin saya terlalu lebay dalam hal ini tapi saya merasakan bedanya. Pernyataan “Salam hangat”, atau “Jabat Erat”, “Eva yang baik”. Mungkin terlihat sepele namun saya merasa seakan yang berbicara telah mengetahui saya dengan baik, dan saya berbicara dengan orang yang baik pula. 

Tepat pada tanggal yang dijanjikan, saya menerima email untuk tahap yang serius yaitu MCU. Saya tidak menyangka bisa sampai pada tahap ini. Namun gayung tak bersambut ketika saya (tanpa berani berharap banyak) berdiskusi dengan keluarga tentang konsekuensi harus bertugas di daerah 3T selama setahun dan terutama tidak diperbolehkan menikah. Karena tidak mendapat restu, tepat pada tanggal 12 April saya mengirim email pengunduran diri. Alhamdulillah, tidak ada yang disesali. Chapter hidup selanjutnya pun menanti.

Walaupun tidak dilanjutkan, saya tidak menyesal pernah mengikuti seleksi PM. Paling tidak saya bisa merasakan “sehari” menjadi PM. 

Semoga artikel ini memberikan gambaran tentang seleksi PM buat teman-teman yang ingin mengikuti seleksi!

 

PS. Jangan ditunda-tunda lagi kalau memang ada waktu dan kesempatan, bisa jadi hanya tahun ini kamu berkesempatan, tahun depan sudah ada prioritas lain, kan?

 

*Photo source: http://igikotajogja.or.id/2018/05/08/kondisi-pendidikan-di-indonesia-saat-ini/

Published by Eva Afifah

Graphic Designer | Children Illustration Enthusiast eva.afifah.rd@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: