New chapter: Dresden

Hello again, it’s been awhile. Tiga bulan terakhir terlalu cepat berlalu karena beberapa kesibukan. Beberapa hari ke belakang, semuanya kembali normal. Barulah saya sadar bahwa sudah beberapa lama blog ini tidak disentuh. Mungkin karena telah menemukan media lain untuk bercerita, tetapi akhir-akhir ini nampaknya semuanya kembali seperti sediakala.

tiga bulan terakhir, banyak sekali yang terjadi. Termasuk pernikahan saya sendiri, dan ‘pindah’ ke tempat baru, menemani suami menyelesaikan studi s3 nya. Dia bilang ini kerja, ya menurut saya sama saja. Studi juga, tapi dapat allowance juga. 

Omong-omong, saya baru sekitar satu bulan menetap di daerah ini sebagai turis. Ya, saya masih akan kembali ke Indonesia untuk mengurus visa sebagai dependant di sini, baru bisa tinggal secara resmi di sini selama lebih dari 90 hari. Rencana awal memang ingin mengurus semuanya terlebih dahulu baru ‘pindah’ dengan alasan tidak bolak balik, namun karena satu dan lain hal nampaknya lebih baik saya menemani suami dahulu untuk beberapa waktu. Sekalian bantu pindahan rumah katanya.

Tepat besok, 40 hari sudah saya berganti status sebagai istri orang. Tanggungjawab orang tua berpindah ke suami dan saya harus mengutamakan suami di atas orang tua. Memang masih agak sungkan, biasa bilang a sampai z sama orang tua tanpa memikirkan segala sesuatunya. Sekarang, harus bilang sama suami yg sebelumya adalah orang lain–ya sekarang suami–tidak mungkin tanpa mikir ini itu sebelumnya. Walhasil banyak yang harus di-adjust. Masih sering saya lupa bahwa tidak boleh egois, harus banyak mengalah. Ya, lebih baik diam daripada membuat salah (lagi).

Suami saya kebetulan juga bukan tipe yang banyak omong. Jadi ya kalau sudah diam, ya saya ikut diam. Kadang saat pulang kerja dan masih ada yang harus dikerjakan, ini yang harus diwaspadai. Mungkin karena capek seharian kerja, ada yang tidak sreg di hati suami sedikit saja bisa jadi fokus utama. Sia-sia deh kerjaan seharian nyapu, beres2, dll karena masakan ada yang gosong hehehe. Tapi ingat lagi tidak boleh egois, ayok coba diredam.

Sebulan pertama kami sibuk mengurus pindahan. Mindahin barang dari kota sebelah (kebanyakan dilakukan dia sehari setiap habis pulang kerja karena tiket kereta mahal sekali, 20euro huhu) dan juga mengurus administrasi ini itu. Jadi setiap hari suami commute dari Dresden ke Freiberg, tempat beliau bekerja. Pergi pagi sekitar jam8, sampai di rumah lagi sekitar jam6 sore atau lebih malam kalau ada yang belum selesai.

Hal yang paling susah menurut saya adalah komunikasi dengan yang di rumah. Maklum, sudah terllau lama saya berada di rumah, sekitar 8 bulan. Sejak merantau setelah lulus SD, sejujurnya saya tidak pernah berada di rumah terus menerus selama lebih dari 3 bulan. Ya, saya berada di asrama hingga SMA kemudian pindah ke Bandung untuk kuliah hingga pertengahan 2015, lanjut internship hingga 2016 akhir di Jakarta lalu pindah ke London utk lanjut studi hingga akhir 2018. Terang saja keenakan di rumah menjadi anak mama kembali satu-satunya membuat saya terlena. Sekarang jadi lebih sering kangen dan dikit2 mellow hehehe. Sayangnya, sudah sebesar ini harus banyak filternya, apalagi sudah berkeluarga. gak semuanya bisa diceritain dan peran teman dekat sangat berpengaruh nih di sini. Ditinggal seharian, lalu bertemu lagi di sore hari ekspektasi pasti ingin banyak ngobrol, cerita2. Tapi kalau capek ya harus maklum juga. Makanya harus punya teman bercerita dan menyibukkan diri. Saya sendiri masih mencari-cari kegiatan apa yang bisa saya geluti biar gak ganggu suami terutama di waktu kerja. Karena sadar atau tidak, kadang kalau orang sibuk digangguin kita bisa jadi nyebelin loh.

Ya mudah-mudahan saja saya cepat menemukan ritme baru di sini dan tidak jadi beban buat suami saya sendiri. Yang awalnya ingin supporter malah jadi pengganggu kan gimana ceritanya…

Manajemen hati juga perlu banget, terutama karena sudah harus lebih mandiri tidak boleh sedikit2 cerita ke kakak atau ortu. Menulis jadi salah satu hal favorit saya sejak menjadi lebih mandiri ketika berada di London. Alhamdulillah banget punya flatmate supportif dan sangat mengerti kita. Kebetulan semuanya cewek, belum pernah tinggal sama cowok. Jadi ya ini adalah pengalaman pertama saya menghadapi jenis manusia ini hehehe

Wish me luck!

 

Photo of Dresden Hauptbahnhof by Eva Afifah

Published by Eva Afifah

Graphic Designer | Children Illustration Enthusiast eva.afifah.rd@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: